Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan di sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya akan diinterview pada session terakhir agar lolos.

“Saudara Andi, silakan” panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.

Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD. Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan.

“Permisi Bu”

“Selamat pagi, silakan duduk” sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.

“Oh ya, kenalkan saya Helen”

“Andi Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya.

“Panggil Mbak aja ya”

“Iya Mbak”

Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.

“Dulu apa pekerjaannya, Andi?” tanya Helen sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.

Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku. Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh

“Sampai sekarang sih masih sebagai free guide” jawab saya jujur.

“Maksudnya ?”

“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”

“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”

“Jadi maaf ya, Andi belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”

“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”

“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”

“Maksud Mbak ?” tanya saya nggak ngerti.

“Kalo saya minta Andi menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”

“Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok” jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi.

“Besok ya, jam 09.00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu”

“Ya Mbak, pasti saya datang”

“Permisi Mbak”

“Ya, silakan” jawab Mbak Helen mengantar saya keluar ruangan.

Tepat jam 09.20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Helen menginap.

“Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Helen yang mana ya?” tanya saya pada recepsionis hotel itu.

“Oh, Pak Andi ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Helen”

“Terima kasih Mbak”

“Sama-sama”

Ternyata Mbak Helen sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.

“Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?”

“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Helen aja ya”

“Ya Mbak E..Eh.. Helen”

“Andi, bisa nyopir khan?”

“Bisa emangnya kenapa”

“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”

“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”

“ Helen pengin liat tempat gerabah dulu ya”

“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Helen tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.

Pada jam 09.40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram. Setelah sampai, Helen membeli beberapa gerabah hingga jam 12.10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.

“Terus mau kemana lagi Helen?” tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.

“Temenin saya berenang yuk”

“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”

“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”

“OK boss”

Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.

“Tunggu di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu” celoteh Helen sambil berlalu ke ruang ganti.

Setelah beberapa saat, wow Helen sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya.

“Ayo Ndi, kok bengong aja” katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.

Kami berenang sampai jam 17.10 sore dan lalu Helen mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.

“Sampai besok ya Ndi”

“Ya, sampai besok Helen” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Helen memakai pakaian renangnya itu.

Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya. Ah.. tapi itu cuma angan-angan saya saja untuk making love dengannya. Hari berikutnya saya antar Helen ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat wisata lainnya.

“Kita ke mall yuk” ajak Helen sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.

“Ada acara apa nich ke mall?” tanya saya sambil melirik Helen yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku.

“Saya mau beli pakaian atas nich” jawabnya.

Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali. Siang itu Helen mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Helen sendiri.

Mall itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Helen yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Helen tidak keberatan saya peluk pinggangnya. Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih para pembaca majalah mesum..

“Kita cari baju yuk” ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut.

“Okey”

“Ini bagus nggak Ndi?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah.

“Bagus juga kok Helen, cobain aja” jawabku.

“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti.

Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Helen tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

Pertama-tama Helen membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Helen. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Helen mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.

“Gimana Helen, rasanya naik cidomo?” tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.

“Lucu ya, naik cidomo begini”

“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”

“Oh, gitu”

Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Helen bisa beristirahat.

“Ndi, kamu tadi ngintip saya ya?” tanya Helen tiba-tiba sambil menatap saya lekat.

“E.. Eh.. Ya Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Helen tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.

“Mmh Gitu ya”

“Maaf ya Helen, saya nggak sengaja kok, kalo Helen nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya.

“Tunggu Ndi, sebetulnya Helen nggak apa-apa kok”

“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.

“Gimana badannya Helen?” tanyanya lagi dengan antusias.

Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Helen supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.

“Seksi sekali” jawabku.

“Yang bener” tanyanya memastikan.

“Abis bodinya Helen seksi sich, rajin fitness ya”

“Iya, ini akibat latihan fitness”

“Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Helen tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.

Tiba-tiba HP Helen berdering, dan Helen menjawab HP-nya sambil duduk di sofa. Wow, sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Helen menutup HP-nya, Helen menatap saya dengan pandangan yang lain.

“Ada apa Helen?” tanya saya sambil duduk di sampingnya.

“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.

“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan.

“Biasa, panggilan dari bos besar ” jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.

“Gimana kalo sekarang, Andi kasih hadiah”

“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Helen penasaran sambil menatap saya serius.

“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”

“Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir.

“Lho, ini khan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.

“Geli tau ” tolaknya manja.

“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Helen merasakan rangsangan.

“Jangan Ndi.. Kamu Nakal” sentak Helen sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Helen.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Helen masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya.

“Mmh” guman Helen karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.

“Sst JannNgan Sst” celotehan dan sedikit rintihan Helen membuat saya tahu bawah Helen sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.

“Aduh Sst Ndi Pelan-pelan” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.

Tangan saya kembali bergerilya ke bawah punggungnya, dan berusaha melepas BH putihnya hingga akhirnya lepas juga. Dengan tiba-tiba BH itu disentak oleh Helen sendiri hingga lepas ke lantai dan menarik kaosnya hingga ke atas. Tampak jelas payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang sudah berdiri kencang.

“Ndi Pakai kondom ya ?” pinta Helen sambil meraba-raba si boy dengan pelan.

“Ya Helen ” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan daritadi. Helen sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya.

“Tunggu Helen, biar saya saja yang nanti melepasnya” cegah saya saat melihatnya akan membuka roknya, dan sekarang saya juga sudah membuka pakaian dan celana panjang hingga bugil tinggal tersisa CD saja.

“Ini rahasia kita berdua lho” bisik Helen sambil menatap saya tajam dan saya lihat di matanya ada keinginan yang terpendam dan sudah lama tak tersalurkan.

“Oke boss” jawab saya sambil menciumnya dengan hangat dan disambut dengan gemas oleh Helen, bahkan tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian ciuman saya turun ke payudaranya dan melumatnya, menghisap bahkan menggigit putingnya hingga Helen merintih. Itu saya lakukan selama beberapa menit.

“Sst mmh terus sst ke bawah dikit sst ” pinta Helen sambil merintih tidak karuan sambil mendorong kepala saya memintaku mencium dan menjilat pusarnya.

Tangan kanan saya juga aktif merayap pada pahanya dan semakin naik ke bawah hingga masuk ke dalam roknya dan menyentuh vaginanya yang terbungkus CD. Saya usap-usap beberapa menit, kemudian tangan saya masukkan ke dalam CD putihnya dan mengorek-ngorek lubang vaginanya hingga mengeluarkan cairan.

“Sst Ndi Aduh Geli Sst” rintih Helen sambil berusaha membuka roknya. Karena birahinya sudah cukup tinggi, saya bantu untuk membuka rok beserta CD-nya hingga Helen bugil sama sekali dan kelihatan bodinya yang padat dan montok.

“Ayo Ndi, buka juga dong, kok bengong” pinta Helen tidak sabar sambil membuka CD saya dan keluarlah si boy dengan tegaknya, Helen sampai tercengang melihat si boy yang agak bengkok ini.

Bagaimana saya tidak bengong melihat cewek cantik putih mulus dan seksi di hadapan saya dengan ukuran payudara 34B ini. Kami sama-sama bugil sekarang dan saya mengambil posisi agak berjongkok untuk menghisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan tercukur rapi, sedangkan Helen tiduran di sofa sambil membuka pahanya agak lebar.

“Lho, kok bengong” tanya Helen sambil membimbing kepalaku agar lebih dekat pada vaginanya.

“Ehh” jawabku kaget tapi cuma sesaat karena berikutnya, vaginanya sudah saya jilat, yang pada awalnya baru pada bibir vagina dan lama-kelamaan pada lubang vaginanya mencari biji kacangnya serta menghisapnya lebih keras, bahkan bulu-bulu halusnya juga ikut tersapu dengan jilatan dan hisapan saya.

“Sst Oh Yes Sst Mmh ” rintih Helen panjang sambil menggerakkan pinggulnya ke atas sampai wajah saya terbenam semua dalam permukaan vaginanya. Sementara tangan kiri saya meremas-remas payudaranya silih berganti dengan dibantu tangan Helen sendiri.

“Sst TeruSs Ndi Sstss Mmh Sst Saya KeluAr Arkh” jerit Helen karena dengan tiba-tiba menjepit kepala saya dengan kedua pahanya.

Rupanya Helen telah mengalami orgasmenya yang pertama sejak making love karena saya tahu begitu banyak cairannya yang keluar.

“Helen, mau nggak isep si boy?” tanya saya menghentikan gerakan menghisap cairan vaginanya sambil menyodorkan si boy padanya.

“Mmh Gimana ya, Helen belum pernah tuch” jawabnya gengsi karena mungkin Helen memang belum pernah menghisap kemaluan cowok.

“Gini, kuajarin, Helen lumat aja dan jilat dulu kepalanya ya” bujuk saya sambil membimbing Helen duduk di sofa dan saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol. Tangan kanannya saya arahkan untuk memegang kontol saya dan memintanya mengocok pelan.

“Begini ya ?” tanya Helen sambil mengocok kontol saya pelan dan mengurutnya hingga si boy semakin keras saja.

Rupanya si Helen cepat belajarnya, dan saya semakin menikmati making love ini.

“Bagus Sekarang kulum Helen Sst Ya Gitu ” pinta saya lirih karena dengan cepatnya Helen mengulum kepala kontol saya dan semakin lama semakin ke dalam hingga kontol saya sampai masuk semua pada mulutnya, bahkan kadang-kadang tanpa diminta, Helen menjilati buah zakar saya tanpa jijik dan kembali mengulum dan menghisap kontol saya dengan irama yang kadang cepat kadang pelan.

“Sst Udah Helen Cukup” pinta saya karena sudah tidak kuat menahan hisapan Helen yang semakin lama semakin liar saja.

“Ayo Ndi, Helen udah nggak tahan nich ” jawab Helen sambil memasangkan kondom pada kontol saya.

Kemudian Helen rebah telentang lagi di sofa dengan masih memegang kontolku yang sudah memakai kondom dan mengarahkannya pada bibir vaginanya. Kontol saya gesek-gesekkan dulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan hingga membuat Helen mendesis kegelian.

“Sst Geli Ndi Udah masukin aja”

BACA JUGA : Cerita Mesum Pengalaman Seks Dengan Tante Marie

“Auwh Sst Pelan Sst ” jerit Helen karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya.

“Sst Aduh Mmh Sstss ” rintih Helen begitu kontol saya masuk semua dan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Saya juga memompa kontol saya keluar masuk vaginanya dengan perlahan dan semakin lama makin cepat

“Sst Ndi Mmh Sst Ce Petan Sst ” pinta Helen pada saya karena saya memperlambat sodokan kontol saya.

“Mmh Nah Gitu Ter Us Ssttss ”

“ Helen En Ak Nggak Sst ?” tanya saya tersengal-sengal karena Helen semakin aktif memutar-mutar pinggulnya, bahkan tangan kanannya memegang pantat saya dan menekannya dengan keras hingga kontol saya semakin dalam masuk ke vaginanya.

“Sstss Enak Ndi Sstt ” jawabnya lirih karena kedua tangan saya silih berganti meremas payudaranya yang kadang-kadang saya isap puting susunya bergantian.

“Sstssrtt Udah Ndi Kelu Arin Samaan Sst ” pinta Helen yang rupanya sudah tidak tahan pada sodokan kontol saya yang keluar masuk makin cepat diimbangi pula dengan cepatnya goyangan pinggul Helen.

“I Ya Helen Sst ” desis saya lirih karena saya dengan kuat juga diputar-diputar oleh pinggul Helen yang kencang itu hingga kontol saya rasanya senut-senut dijepit oleh vaginanya.

Beberapa puluh menit saya dan Helen melakukan making love itu dengan bersemangat hingga kepala Helen menoleh ke kiri-ke kanan tak beraturan. Rupanya pertahanan saya sudah akan bobol dan akhirnya saya memberi aba-aba pada Helen disertai dengan pelukan Helen yang makin kencang.

“Sst Ayo Helen Sst”

“Ssrtrrsst Arkhkk” jerit Helen melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya.

Crot croot croot Tiga kali tembakan saya muntahkan dalam vaginanya tapi masih di dalam kondom Helen akhirnya lunglai sambil memeluk saya dengan hangat.

“Hahh Lega rasanya”

“Gimana rasanya Helen?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu.

“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum.

Selama dua hari, sejak kejadian itu saya sering melakukan making love dengan Helen, bahkan sering Helen yang memulai lebih dulu. Akhirnya pada hari terakhir saya mengantar Helen ke bandara Selaparang. Hari masih pagi kira-kira jam 05.25, karena pesawatnya akan berangkat jam 07.00. Mungkin Helen masih ingin curhat pada saya mengenai beberapa hal.

“Wah, masih sepi ya”

“Iya Helen, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita khan bisa ngobrol” jawab saya santai.

“Iya, ya”

Pagi itu Helen mengenakan hem yang baru dibelinya dan dipadu dengan rok jins mini kesukaannya yang berwarna putih. Setelah mengobrol sekitar lima belas menit, Helen kelihatannya gelisah dan mengajak saya ke toilet wanita.

“Saya tunggu di sini ya”

“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Helen sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu.

Lalu kami masuk ke kamar mandi di pojok yang kosong. Gila juga Helen, nanti kalau ada yang tahu bagaimana, pikirku. Belum sempat saya berpikir panjang, Helen sudah melepas celana dalamnya yang berwarna merah dan mendorong saya duduk di atas toilet modern itu

“Eh Helen Gimana kalo ada orang nich” jawab saya bingung, tapi akhirnya saya lepas juga celana jins beserta CD saya hingga si boy nongol dengan tegaknya.

“Sst Udah diam aja kamu” jawab Helen sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna.

“Tapi belum pake kondom nich”

“Nggak usah, Helen pengin yang original, ayo” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya.

Saya juga membantunya dengan memegang pantatnya hingga masuk semua kontol saya pada vaginanya. Posisi saya yang duduk memangku Helen dan Helen berhadapan dengan saya mengakibatkan tekanan vaginanya lebih terasa.

“Sst Ndi Ayo Cepetan Sst”

“Iya” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya.

Untung saja pagi itu belum ramai oleh penumpang dan toilet itu belum ada yang mendatanginya hingga Helen dan saya bisa making love dengan nikmat yang bercampur dengan perasaan berdebar-debar.

“Sst Sayang Cepet Ssrrtt” rintih Helen sambil menggoyang pinggulnya dengan liar.

“Sst Mmhmm Ssrttss” desisnya.

“Helen Sst” desis saya lirih sambil tangan saya melepas kancing hemnya dan masuk ke dalam BH-nya serta meremas payudaranya dengan pelan, bahkan kadang-kadang saya cium juga bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan ciuman yang liar juga.

“Ssrtss Ssttrtss” rintih Helen pelan sambil mempercepat goyangan pinggulnya.

Dan akhirnya kegiatan yang berlangsung kurang lebih 40 menit itu saya akhiri dengan mempercepat sodokan kontol saya dengan cepat hingga akhirnya muncratlah lahar putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa penghalang kondom.

“Sst Arkhkk” jerit Helen sambil memeluk saya dengan erat karena bersamaan dengan keluarnya lahar putih saya, juga keluar lahar putih dari Helen. Hingga beberapa saat saya dan Helen masih menikmati sensasi making love itu dengan berciuman lembut.

“Trim’s ya Ndi”

“Sama-sama Helen, kapan-kapan main-main ke Lombok dan making love lagi ya” jawab saya sambil membereskan celana dan baju, begitu pula dengan Helen yang mengganti celana dalamnya dengan yang berwarna hijau lumut.

Setelah rapi, saya dan Helen keluar toilet untuk mengobrol lagi menunggu pesawat yang masih belum berangkat juga. Beberapa saat kemudian baru Helen berangkat ke Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sejuta kenangan akibat making love denganku.

Selamat jalan Helen, terima kasih atas amplop dan kenangan making love nya serta ijinmu agar saya bisa mengirimkan cerita pengalaman kita berdua ini.

Advertisements